Maaf… ini tentang arti kata “Jancuk”

* Sebelumnya mohon maaf yah… tiada maksud lain selain hanya ingin menjelaskan dan memberitahukan tentang makna sesungguhnya *

Jancuk..

Ini makian asli khas Suroboyo. Tapi, makian ini kini sudah merambah ke jurusan Barat dari Jawa Timur. Misalnya, kawasan Barat, sekitar Madiun, Ponorogo, dan bahkan sudah mulai masuk Solo, Yogya, bahkan Bandung tempat saya kuliah. Makian ini semakin banyak didengar. Hal ini seiring dengan makin mobilitasnya komunitas Arek Suroboyo ke seluruh daerah.

Jancuk memang memiliki penggal kata, kalau tak boleh disebut sebagai suku kata. Awal pembentuk makian ini, yaitu ‘cuk’. Suku kata ‘cuk’ ini dengan mudah bisa kita cari sumbernya, yaitu kata ‘encuk’, yang artinya *maaf* persetubuhan, seperti ‘fuck’. Kata ‘encuk’ jelas masih dianggap porno kalau diungkapkan di kelompok orang yang masih rada risih. Akibatnya, mereka yang suka memaki ‘jancuk’ dikategorikan sebagai orang-orang kelas bawah.

Cerita-cerita mengenai heroisme komunitas Arek Suroboyo, membuat kata jancuk ini dipakai untuk menegaskan identitas seseorang untuk menggunakan kata ini pula. Tetapi, ada beberapa cara penggunaan yang keliru, sehingga terkesan kurang genuine. Hanya mereka yang pernah akrab dengan suasana pergaulan antar Arek yang bisa terdengar fasih mengucapkan kata-kata jancuk dan variannya dengan benar. Arek Suroboyo bilang itu ‘leko’, seperti makanan yang nikmat, berminyak, dengan bumbu-bumbu komplit. Sayur asem, jelas bukan jenis masakan yang berkategori ‘leko’. Tetapi orang bisa makan dengan ‘leko’-nya, meski dengan sayur asem, tapi ditambah ikan asin, dan sambel bajak serta nasi putih nan punel.

Varian-varian dari Jancuk adalah diancuk, diamput, jamput, jangkrik, dan mbokne ancuk. Jangkrik merupakan pengalihan atau penghalusan dari kata jancuk, berkategori makian juga, agar masih bisa disebut orang yang sopan. Tapi kalau sudah ingin memaki karena betul-betul sudah sangat marah, pasti yang dipakai jancuk, bukannya jangkrik.

Demikian juga dengan jamput dan diamput. Ini levelnya antara jancuk dan jangkrik. Per vokal, sudah mendekati jancuk makian nan kasar, tetapi dibungkus dengan akhiran yang rada sopan. Ini terlihat dari pemilihan kata ‘put’ yang masih membuat bentuk bibir terlihat manis. Pada diamput maupun jamput masih ada upaya untuk menekan makian agar tak terlalu kasar. Lebih-lebih bagi mereka yang memiliki status sosial menengah ke atas. Atau, pas lagi berada di kerumunan kelompok ini. Biasanya juga diucapkan secara perlahan.

Meski kata jancuk dan turunannya tersebut sudah akrab di telinga kalangan Arek Suroboyo, penggunaan kata tersebut untuk memaki masih menjadi sebuah pemancing terjadinya kesalahpahaman. Dimulai dari kekagetan yang dimaki, lalu terjadi pandang-pandangan, maka kesalahpahaman pasti akan muncul. Padahal, maksudnya bukan memaki, cuma kaget saja. Anda kena senggol puntung rokok, secara spontan bisa keluar kata ‘jancuk’ dengan intonasi keras. Penyenggol, yang merasa tak sengaja, pas dia punya tongkrongan lebih seram, akan menjawab kekagetan tersebut dengan pelototan yang bermakna: ‘mau apa loe!’. Jancuk berkembang tak cuma sekedar menjadi makian untuk melengkapi sebuah kekagetan atau kemarahan tetapi menjadi sebuah cara mengungkapkan sesuatu yang bersifat superlatif. Seperti ‘fucking’ atau ‘bloody’ yang diikuti dengan kata lain, untuk menegaskan adanya sesuatu yang lebih dari kata tersebut. Penggunaan jancuk untuk keperluan lain bisa dengan kata ‘jancuk’ atau ‘jancukan’. Tempelkan kata apa saja dan lihatlah jika kata yang ditempelkan tersebut bersifat negatip, maka dia benar-benar dimaksudkan untuk menekankan sebuah perilaku atau keadaan yang benar-benar sangat-sangat negatip.

Arek Suroboyo bisa memilih menggunakan kata jancuk kalau itu untuk memberikan komentar, seperti ‘jancuk elek-e‘, karena mereka begitu kesal melihat sesuatu yang ‘elek’ itu tadi. Misalkan sedang melihat sebuah tayangan televisi yang jelek.

Sebaliknya penggunaan kata ‘jancukan’ dilakukan untuk sesuatu yang telah lewat, ketika mereka hendak menceritakan sesuatu hal kepada orang lain. Wah ‘jancukan elek-e’, misalkan ketika hendak menceritakan sebuah tayangan televisi yang sudah dilihat, dan mau diceritakan kepada orang lain.
Kalau kata yang mengiringi jancuk maupun ‘jancukan’ tadi sesuatu yang positip, maka itu adalah sebuah pengakuan yang tulus terhadap sesuatu yang benar-benar positip. ‘Jancuk ayune, rek‘, karena ada Tamara Blezinky lewat. Dan mereka pun bisa cerita kepada teman bahwa pernah melihat Tamara Blezinky lewat. Seraya sambil mengacungkan jempol, mereka biasa bilang ‘jancukan ayune‘. Kalau mau seru bisa diikuti dengan kata ikutan ‘Sumpah !’, atau yang bisa dibikin rada lucu : ‘Sumprit !’. Jancuk bisa dipakai untuk menyapa akrab seseorang. Tapi tetap ingat, pada suasana apa kata ini dipakai. Seorang teman akrab bertemu, dan lontaran ‘Cuk (atau jancuk), jik urip peno, cak….‘ justru akan melahirkan sebuah suasana yang langsung cair dan gembira. Sapaan tersebut bermakna akrab persahabatan, jauh dari umpatan dengki permusuhan.

‘Jancukan’ bisa juga dipakai untuk memberi predikat. Tommy yang sudah menghabiskan uang negara tapi sembunyi, bisa dikenai predikat ini, yaitu ‘Tommy iku jancukan poll !’. Kalangan keturunan Cina biasanya menggunakan kata ‘soro’ untuk mengganti kata ‘poll’ tadi. ‘Tommy iku jancukan soro!’. Biasanya, kata ikutan yang menyertainya adalah: ‘wis’. ‘Tommy iku jancukan poll, wis!’

Arek Suroboyo jika sedang gemas, biasa juga memakai kata jancuk. ‘Jancuuu………k !‘. ‘Jan’-nya diteriakkan secara pendek, lalu ikuti dengan teriakan ‘cuk’ yang panjang sampai tuntas rasa gemasnya. Bisa juga ketika terasa kesakitan. Jari terpukul martil, sambil memencet jari tersebut, ucapkan mantra ini, ‘jancuu….k‘. Bisa juga dipakai ketika lagi beol, tapi sulit keluar. Sambil mengejan, mantra ini manjur dipakai.

[dari internet... lupa sumbernya ... heheheh...]


About this entry